All about Chemistry

Blog ini dibuat sebagai sumber belajar materi kimia, baik SMA maupun Perguruan Tinggi

Sifat-sifat Keperiodikan Unsur

Atom merupakan bagian terkecil dari unsur, sehingga dapat disimpulkan bahwa sifat suatu unsur ditentukan oleh keadaan dari atom-atom penyusun unsur tersebut.

Perkembangan Teori Atom

Konsep atom sebagai partikel terkecil di alam semesta, dicetuskan oleh Demokritos di masa Yunani Kuno. Namun karena teori itu tak disertai penelitian ilmiah, banyak ilmuwan yang meragukan dan meneliti kebenarannya.

Hidrokarbon

Atom karbon mempunyai nomor atom 6, sehingga dalam sistem periodik terletak pada golongan IVA dan periode 2. Keadaan tersebut membuat atom karbon mempunyai beberapa keistimewaan

Saturday, 7 July 2018

Laporan praktikum Pembuatan Pewarna Alami dari Buah Naga

LAPORAN
PRAKTIKUM
PEMBUATAN PEWARNA ALAMI DARI BUAH NAGA








DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK 1




JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
 
A. JUDUL PERCOBAAN
Pembuatan Pewarna Alami dari Buah Naga

B. TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa mampu melakukan pemanfaatan kuit buah naga merah sbagai pewarna alami pada makanan dan mamu meningkatkan nilai gizi makanan

C. LANDASAN TEORI
Sumber daya alam diperlukan sebagai bahan baku atau bahan mentah untuk menghasilkan barag setengah jadi atau produk jadi. Penapilan suatu produk akan terliat lebih menarik dengan penggunaan zat warna. Zat warna ini merupakan senyawa kimia yang dibuat melalui proses kimia atau sudah tesedia di alam yag umumnya sebagian besar terdapatdalam tumbuh-tumbuhan (Syarfi, 2013). Tumbuhan pewarna alam merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai ptensi untuk digunakan sebagai zat pewarna makanan di Indonesia.
Penggunaan zat warna sudah semakin luasterutama dalam makanan dan minuman, karena warna makanan memberikan daya tarik bagi konsumen. Zat warna enurut asalnya terdiri dar zat warna alami dan zat warna sintetik. Zat warna alami (pigmen) adalah zat warna yang secara alami terdapat dalam tanaman maupun hewan. Zat warna alami dapat dikelompokkan sebagai warna hijau, kuning dan merah. Penggunaan zat warna alami untuk makanan dan minuman tidak memberikan efek kerugian bagi kesehatan, seperti halnya zat warna sintetik yang semakin banyak penggunaannya. Zat warna sintetik semakin banyak digunakan karena keuntungannya antara lain stabilitasnya lebih tinggi dan penggunaannya dalam jumlah kecil sudah cukup memberikan warna yang diinginkan, namun penggunaan zat warna sintetik dapat menimbulkan efek samping yang menunjukan sifat karsinogenik (Winarti, 2008).
Pewarna merupakan salah satu zat adiktif atau bahan tambahan makanan. Salah satu alas an penambahan bahan makanan adalah penyedap makanan. Membeli makanan jadi jauh lebi mudah dan lebih efisien daripada memuat makanan. Banyak zat adiktif ditambahkan dalam makanan agar terlihat leih menarik. Misalna lemon: harus hijau, dan margarine dharapkan menjadi kuning, seperti mentega. Salah satu pewarna makanan umum adalah pewarna caramel, yang digunakan untuk warna coklatuntuk soda, roti dan bahan makanan untuk di panggang. Warna ini dibuat dengan pemanasan gula atau arbohidrat lain, dan selama bertahun-tahun warna caramel dikenal sebagai warna gula yang dibakar. Warna ini bahkan digunakan untuk memberikan warna emas pada kentang goring, yang dicelupkan dalam larutan gula (Tim Dosen Kimia Pangan, 2016).


D. ALAT DAN BAHAN
E. PROSEDUR KERJA
F. HASIL PENGAMATAN 
G. PEMBAHASAN
H. KESIMPULAN
I. DAFTAR PUSTAKA

Makalah metodologi penelitian "variabel penelitian" lengkap

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penelitian adalah suatu proses mencari tahu sesuatu secara sistematis dalam waktu yang relatif lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Salah satu komponen penelitian yang mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan proses studi secara komprehensif  adalah variabel penelitian.  Variabel merupakan atribut sekaligus objek yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Ada beberapa jenis variabel dalam penelitian. Variabel-variabel dimaksud antara lain: variabel bebas dan variabel terikat, variabel aktif dan variabel atribut, variabel kontinu dan variabel kategori termasuk juga variabel laten. Selain itu kriteria atau syarat suatu variabel yang baik dalam pengembangannya harus dipahami dan dimengerti dengan baik sehingga menjadi dasar identifikasi dan pengembangan variabel-variabel penelitian. Oleh karena itu, kami akan membahas tentang variabel penelitian tersebut dalam makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan variabel penelitian?
2. Bagaimana ciri-ciri variabel penelitian?
3. Bagaimana jenis-jenis variabel penelitian?
4. Bagaimanakah pengukuran variabel penelitian?
5. Bagaimanakah korelasi variabel penelitian?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian variabel penelitian.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri variabel penelitian.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis variabel penelitian.
4. Untuk mengetahui pengukuran variabel penelitian.
5. Untuk mengetahui korelasi variabel penelitian.



















BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN VARIABEL
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. Pengertian lain bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep tertentu.
Variabel diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Sering pula dinyatakan variabel penelitian itu sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Kalau ada pertanyaan tentang apa yang akan di teliti, maka jawabannya berkenaan dengan variabel penelitian. Jadi variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Secara teoritis variabel dapat didefiisikan sebagai atribut seseorang, atau objek yang mempunyai “Variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain (Hatch dan Farhady,1981). Dinamakan variabel karena ada variasinya.
Menurut Y.W Best yang disebut variabel penelitian adalah kondisi-kondisi atau serenteristik-serenteristik yang oleh peneliti  dimanupulasikan, dikontrol atau dioservasi dalam suatu penelitian. Sedang Direktorat Pendidikan Tinggi Depdikbud menjelaskan bahwa yang dimaksud variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Dari kedua pengerian tersebut dapatlah dijelaskan bahwa variabel penelitian itu meliputi faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang kan diteliti.
Apa yang merupakan variabel dalam sesuatu penelitian ditentikan oleh landasan teoritisnya, dan ditegaskan oleh hipotesis penelitian. Karena itu apabila landasan teoritisnya berbeda, variabel-variebel penelitiannya juga akan berbeda. Jumlah variabel yang dijadikan objek pengamatan akan ditentukan oleh sofistikasi rancangan penelitiannya. Makin sederhana sesuatu rancangan penelitian, akan melibatkan variabel-variabel yang makin sedikit jumlahnya, dan sebaliknya.

B. CIRI-CIRI VARIABEL PENELITIAN
Dalam sebuah penelitian variabel memiliki tiga ciri khusus, yaitu: memiliki variasi nilai, membedakan satu objek dengan objek yang lainnya dalam satu populasi, dan bisa diukur.
1. Variabel mimiliki nilai yang bervariasi.
Dikarenakan variabel membedakan satu objek dengan objek lain dalam satu populasi , maka variabel haruslah memiliki nilai yang bervariasi. Misalnya sebagai berikut: dari suatu populasi yang terdiri dari 40 orang mahasiswa, indeks prestasi atau IP hanya akan menjadi variabel bila terdapat variasi nilai dalam IP pada populasi tersebut. Dan sebaliknya, jika dari 40 orang mahasiswa tersebut tidak terdapat variasi nilai dalam IP karena memiliki nilai IP yang sama, maka IP bukan termasuk dalam konsep variabel dari populasi kelompok tersebut. Contoh yang lainnya, dari suatu populasi yang tinggal di suatu daerah tertentu, jenis pekerjaan atau profesi bukanlah merupaka variabel jika seluruh orang dalam populasi itu mempunyai profesi atau pekerjaan yang sama.
2. Variabel membedakan satu objek dari objek yang lainnya.
Objek – objek bisa menjadi anggota populasi karena memiliki suatu karakteristik yang sama. Walaupun sama, objek – objek dalam populasi masih bisa dibedakan satu sama lainnya dalam suatu variabel. Contohnya, populasi mahasiswa terdiri dari anggota yang mempunyai satu kesamaan karakterisktik, yaitu mahasiswa. Selain dari kesamaan tersebut, diantara mahasiswa tersebut memiiliki perbedaan dalam hal usia, agama, jenis kelamin, motivasi belajar, cara belajar, prestasi, tempat tinggal, pekerjaan orang tua, bakat, kecerdasa, dan sebagainya. Perbedaan – perbedaan tersebut merupakan variabel dikarenakan memiliki sifat membedakan di antara objek yang ada di dalam populasi mahasiswa tersebut.
3. Variabel harus bisa diukur.
Penelitian kuantitatif mengharuskan adanya hasil penelitian yang objektif, terukur dan selalu terbuka untuk diuji. Variabel berbeda dengan konsep, karena konsep belum tentu dapat diukur sedangkan variabel bisa diukur. Variabel adalah operasionalisasi konsep (Bouma, 1993:38). Contohnya sebagai berikut, belajar adalah konsep dan hasil belajar adalah variabel, mahasiswa adalah konsep dan jumlah mahasiswa adalah variabel. Dengan demikian data dari variabel penelitian harus stampak dalam perilaku yang bisa diukur dan diobservasi, misalnya prestasi belajar adalah jumlah jawaban yang benar dihasilkan oleh mahasiswa dalam mengerjakan sebuah tes.

C. JENIS – JENIS VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang menjadi sebab atau berubahnya variabel lain (variabel dependen). Juga sering disebut dengan variabel bebas, prediktor, stimulus, eksougen atau antesendent yang sedang dianalisis hubunganya atau pengaruhnya terhadap variabel terikat. Variabel independen biasa disimbolkan dengan variabel (X).
Variabel bebas adalah sebab yang dipandang sebagai sebab kemunculan variabel terikat (Y) yang dipandang (atau diduga) sebagai akibatnya. Dinamakan sebagai Variabel Bebas karena bebas dalam mempengaruhi variabel lain.
Contoh:
Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar
Variabel bebas adalah: motivasi belajar


2. Variabel Dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel lain (variabel bebas). Juga sering disebut variabel terikat, variabel respons atau endogen. Variabel inilah yang sebaiknya dikupas secara mendalam pada latar belakang penelitian. Berikan porsi yang lebih dalam membahas variabel terikat daripada variabel bebasnya karena merupakan implikasi dari hasil penelitian. Variabel dependen biasanya disimbolkan dengan (Y). Disebut Variabel Terikat karena variabel ini dipengaruhi oleh variabel bebas/variabel independent. Antara variabel Independent dan Dependent, masing-masing tidak berdiri sendiri tetapi selalu berpasangan.
Contoh:
Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar
Variabel terikat adalah: hasil belajar
3. Variabel Moderating
Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel moderating juga sering disebut sebagai variabel bebas kedua dan sering dipergunakan dalam analisis regresi linear atau pada structural equation modelling.
Contoh:
Hubungan semangat belajar dan hasil belajar siswa akan meningkat jika guru mampu menciptakan iklim kelas yang meyenangkan, namun akan menuruh jika guru tidak mampu menciptakan iklim belajar yang menyenangkan.
• Guru mampu menciptakan iklim yang menyenangkan adalah variabel moderator yang memperkuat,
• Guru tidak mampu menciptakan iklim yang menyenangkan adalah variabel moderator yang memperlemah.

4. Variable intervening
Variabel Intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, tetapi tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel Penyela/Antara yang terletak diantara Variabel Bebas dan Variabel Terikat, sehingga Variabel Bebas tidak secara langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya Variabel Terikat.
Contoh :
Tinggi rendahnya penghasilan akan mempengaruhi secara tidak langsung terhadap umur harapan hidup. Di sini ada varaibel antaranya yaitu yang berupa Gaya Hidup seseorang. Antara variabel penghasilan dan gaya hidup terdapat variabel moderator yaitu Budaya Lingkungan Tempat Tinggal.
5. Variabel Kontrol
Variabel Kontrol adalah Variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti. Variabel Kontrol sering dipakai oleh peneliti dalam penelitian yang bersifat membandingkan, melalui penelitian eksperimental.
Contoh :
Pengaruh Metode Pembelajaran terhadap Penguasaan Keterampilan Pertolongan. Variabel Bebasnya adalah Metode Pembelajaran, misalnya Metode Ceramah & Metode Demonstrasi. Sedangkan Variabel Kontrol yang ditetapkan adalah sama, misalnya Standard Keterampilan sama, dari kelompok mahasiswa dengan latar belakang sama (tingkat/semesternya sama), dari institusi yang sama. Dengan adanya Variabel Kontrol tersebut, maka besarnya pengaruh Metode Pembelajaran terhadap Penguasaan Keterampilan dapat diketahui lebih pasti.



D. PENGUKURAN VARIABEL PENELITIAN
 Pengukuran variabel adalah proses menentukan jumlah atau intensitas informasi mengenai orang, peristiwa, gagasan, dan atau obyek tertentu serta hubungannya dengan masalah atau peluang bisnis. Dengan kata lain, menggunakan proses pengukuran yaitu dengan menetapkan angka atau tabel terhadap karakteristik atau atribut dari suatu obyek, atau setiap jenis fenomena atau peristiwa yang mengunakan aturan-aturan tertentu yang menunjukkan jumlah dan atau kualitas dari faktor-faktor yang diteliti.
Pengukuran merupakan keniscayaan dalam penelitian ilmiah, karena pengukuran itu merupakan jembatan untuk sampai pada observasi. Penelitian selalu mengharuskan pengukuran variabel dalam relasi yang dipelajarinya. Pengukuran variabel itu ada yang mudah, seperti konsep ‘jenis kelamin’, dan ada yang sulit, seperti konsep inteligensi.
Pengukuran variabel merupakan tahap awal dari kegiatan pengukuran dalam penelitian. Tujuan pengukuran variabel ini baru pada tahap menjawab pertanyaan “bagaimana cara untuk mengukur variabel tersebut”? Selanjutnya muncul pertanyaan lanjutan; “apa yang diukur” atau “bagaimana cara merubah konsep, dan “apa alat ukurnya”.
Mengukur adalah sebuah proses kuantifikasi, karena itu setiap kegiatan pengukuran berkaitan dengan jumlah, dimensi atau taraf dari sesuatu obyek/gejala yang diukur. Hasil dari pengukuran itu biasanya dilambangkan dalam bentuk bilangan.
Posedur pengukuran variabel dimulai dari pembuatan definisi operasional konsep variabel. Kerlinger mengungkapkan, bahwa definisi operasional itu melekatkan arti pada suatu konsep variabel dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu untuk mengukur suatu konsep variabel itu. Atau dengan ungkapan lain, definisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan peneliti dalam mengukur suatu variabel atau memanipulasaikannya. Suatu contoh definisi operasional yang sederhana (kasar) dari konsep ‘inteligensi’ adalah skor yan dicapai pada tes intelegensi X.
Ada dua cara pembuatan definisi operasional, terukur dan eksprimental. Definisi operasional terukur memaparkan cara pengukuran suatu variabel, sedangkan definisi operasional eksperimental menyebutkan rincian-rincian hal yang dilakukan peneliti dalam memanipulasi sesuatu variabel. Contoh di atas adalah definisi oprerasional terukur, sedangkan contoh definisi eksperimental untuk konsep ‘penguatan’ (reinforcement),dapat diberikan dengan menyatakan secara rinci bagaimana subyek-subyek diberi penguat (imbalan) dan tidak diberi penguat (tidak diberi imbalan) karena melaksanakan tingkah laku tertentu.

E. KORELASI VARIABEL PENELITIAN
Pada intinya penelitian ilmiah adalah mencari hubungan antara variabel, sedangkan data-data yang diperoleh dari lapangan merupakan unsur-unsur yang akan mencantumkan apakah variabel-variabel tersebut memiliki hubungan atau tidak.
Dalam hubungan antara variabel ini ada beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui, yaitu:
1. Hubungan simetris
2. Hubungan timbal balik, (reciprocal), dan
3. Hubungan asimetris
Secara lebih jelasnya beberapa jenis hubungan tersebut dapat dilihat dalam uraian di bawah ini:
1. Hubungan simetris
Hubungan simetris terjadi apabila :
a. Kedua variabel adalah akibat dari suatu vaktor yang sama, misalnya meningkatnya penggunaan internet dikalangan masyarakat dengan, naiknya jumlah oplah surat kabar, merupakan dua variabel yang tidak saling mempengaruhi, namun diakibatkan oleh faktor yang sama, yaitu meningkatnya kebutuhan informasi ditengah masyarakat.
b. Kedua variabel berkaitan secara fungsional, misalnya hubungan antara petani dengan cangkul, hubungan guru dengan murid, hubungan dokter dengan pasien, dan sebagainya.
c. Kedua variabel mempunyai hubungan karena kebetulan semata-mata, misalnya secara kebetulan semua murid berkacamata gemar membaca. Hubungan antara variabel murid berkacamata dengan gemar membaca adalah hubungan simetris.
2. Hubungan timbal balik
Hubungan timbal balik merupakan hubungan antar dua variabel yang saling timbal balik, maksudnya adalah satu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat terhadap varibel lainnya, demikian pula sebaliknya, sehingga tidak dapat ditentukan variabel mana yang menjadi sebab atau variabel mana yang menjadi akibat. Misalnya dalam waktu variabel x mempengaruhi y, dan dalam waktu lain variabel y dapat mempengaruhi variabel x.
Contoh, hubungan antara motivasi belajar dengan minat membaca, motivasi belajar dapat mempengaruhi minat membaca, demikian pula sebaliknya, minat membaca dapat mempengaruhi motivasi belajar. Contoh lain, penenaman modal (investment) mendatangkan keuntungan, dan sebaliknyak keuntungan akan memungkinkan timbulnya penanaman modal. Berdasarkan contoh-contoh ini, variabel terpengaruh pada berubah menjadi variabel pengaruh di waktu lain, demikian pula sebaliknya.
3. Hubungan Asimetris
Hubungan asimetris adalah hubungan antara variabel, yakni suatu variabel mempengaruhi variabel lain, namun sifatnya tidak timbal balik. Pada dasarnya inti pokok analisis-analisis sosial terletak pada hubungan asimetris ini. Misalnya, hubungan antara keamanan suatu negara dengan penanaman modal asing. Keamanan suatu negara akan mempengaruhi tingkat penanaman modal (investasi) asing dinegara tersebut. Tingginya angka pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kriminalitas di masyarakat; tingkat pendidikan mempengaruhi pola hidup sehat; tingkat pendapatan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, dan sebagainya.
Hubungan antara suatu variable satu atau lebih variable lainnya merupakan hipotesis dalam penelitian. Jadi hipotesis adalah kesimpulan sementara /tentative tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis ini akan memberikan arah dari proses pengumpulan data, dan hendaknya/oleh karenanya harus diformulasikan sebagai berikut:
1. Dinyatakan dalam bentuk yang sederhana mungkin
2. Konsisten dengan teori yang ada atau konsistendengan fakta yang diketahui. Harus reasonable (masuk akal).
3. Menggambarkan hubungan antara variable-variabel
4. Harus memberikan petunjuk bagaimana hubungan itu harus diuji. Ini berarti bahwa variable-variabel yang dicantumkan dalam hipotesi harus dapat diukur (dikuantitatifkan) dan arah hubungan antara variable-variabel itu harus jelas.













BAB III
KESIMPULAN

1. Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan.
2. Ciri-Ciri Variabel Penelitian
a. Variabel mimiliki nilai yang bervariasi.
b. Variabel membedakan satu objek dari objek yang lainnya.
c. Variabel harus bisa diukur.
3. Jenis-Jenis Variabel Penelitian
a. Variabel Independen
b. Variabel Dependeng
c. Variabel moderating
d. Variabel intervening
e. Variabel control
4. Pengukuran variabel merupakan tahap awal dari kegiatan pengukuran dalam penelitian.
5. Posedur pengukuran variabel dimulai dari pembuatan definisi operasional konsep variabel.
6. Korelasi Variabel Penelitian
a. Hubungan Simetris
b. Hubungan Timbal Balik
c. Hubungan Asimetris





DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Muhammad Zainal. 2008. Penelitian Korelasional. (artikel). Dalam http://www.Muhammad Zainal Abidin Personal Blog.htm. di akses tanggal 25 September 2010.
Atmodjo, J. Tri. 2005. Modul Penelitian Korelasi (artikel). Jakarta: Fikom Universitas Mercubuana Jakarta
Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Pergoda.
Fraenkel, J.R dan Wellen, N.E. 2008. How to Design and Evaluate research in Education. New York: McGraw-Hill.
https://leecan02.wordpress.com/2009/10/20/variabel-penelitian/
http://catatanenyrahayu.blogspot.co.id/2013/03/makalah-metodologi-penelitian-variabel.html
McMilan, J dan Schumacher, S. 2003. Research in Education. New York: Longman.
Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra edisi ketiga. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Ruseffendi. 1993. Statistika untuk Penelitian Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi.
Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.
Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat &Manajemen Layanan Khusus



Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat &Manajemen Layanan Khusus

Pertanyaan dan Jawaban dari kelompok VI (pertemuan 1) secara garis besar sebagai berikut:
1. Dalam poin ke 3 tujuan manejemen sarana dan prasarana sekolah yakni “Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dan kondisi siap pakai setiap di perlukan oleh semua personel sekolah” apa maksudnya ? dan mengapa ada pembagian pemeliharaan sarana dan prasarana menurut aspek dan sifatnya ?
Jawaban:
pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dan kondisi siap pakai setiap di perlukan oleh semua personel sekolah dimana tujuan dilakukannya pemeliharaan tentu saja untuk mempermudah kegiatan personel sekolah tidak terhambat karena adanya kendala sarana dan prasarana yang tidak siap pakai maka dari itu sarana prasarana harus dimanajemenkan dengan sebaik-baiknya.
Pemeliharan sarana prasarana ada dua yakni dari segi waktu dan sifat, yang dibagi menurut aspek. Yakni aspek waktu terbagi lagi 3 yaitu perwatan dilkukan sehari-hari contohnya kebersihan ruang kelas dan yang berkala seperti pemeliharaan mesin AC atau pengecekan buku perpustakaan. Sedangkan, ditinjau dari segi sifat dimana terbagi 3 lagi yakni pengecekan, pencegahan, dan pemeliharaan ringan. Semua sarana prasarana membutuhkan pemeliharaan dari kedua aspek ini tapi di bagi menurut aspek waktu dan aspek sifat.
2. Manajemen dapat diartikan sebagai salah satunya mengelolah orang (pada Slide). Jelaskan lebih lanjut :
Jawaban :
Manajemen secara garis besar memiliki arti Mengelolah orang Pengambilan keputusan Proses mengorganisasi dan memakai sumber-sumber untuk menyelesaikan tujuan yang sudah ditentukan. Mengelolah orang di sini adalah mengelolah segala personal yang berhubungan pada sesuatu yang diperhatikan. Pada sekolah yang dimanajemenkan adalah warga sekolah dalam hal diberi arahan dan peraturan agar warga sekolah dapat berperan dan menjalankan perennya sebagai mana seharusnya. Agar tujuan sekolah dapat tercapai dan proses yang diharapkan berjalan dengan sebaik-baiknya.
3. Apa maksud dari “penghapusan sarana prasarana sekolah” ? apa alasan yang melandasi penghapusan tersebut ? dan Apabila suatu sarana prasarana sekolah dihapuskan dapatkan diadakan kembali?
Jawaban :
Penghapusan sarana prasarana sekolah adalah pentiadaan sarana prasarana sekolah itu sendiri, dimana hal tersebut dilakukan karena beberapa tujuan  :
• Dihindarinya kerugian ataupun pemborosan biaya pemeliharaan.
• Meringankan beban kerja kerja pelaksanaan invetaris.
• Membebaskan ruang dari penumpukan barang
• Membebaskan barang dari tanggung jawab pekerja.
Adapun suatu pengadaan atau penghapusan suatu sarana prasarana sekolah juga disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan jaman misalnya :
Di hapuskannnya lab mesin ketik disekolah karena sudah tidak diperlukan lagi suatu pembelajaran menggunakan mesin ketik di sekolah. Atau dihapuskannya asrama sekolah karena peserta didik yang berdomisili jauh dari sekolah lebih memilih untuk menyewa kost sehingga tidak terlalu dibututhkan.
Apabila dihapuskan sarana prasarana sekolah dapat diadakan kembali apabila sarana prasarana sekolah tersebut dibutuhkan kembali seperti pengadaan asrama kembali apabila terdapat banyak ketakutan orang tua peserta didik yang tinggal kost di sekitar sekolah tanpa ada pengawasan sekolah, maka dari itu dapat diakan kembali.
Pertanyaan dan Jawaban dari peserta diskusi (pertemuan 2) secara garis besar sebagai berikut:
1. Bagaimana masyarakat dapat memajukan sekolah dan apa dampaknya apabila tidak adanya hubungan msyarakat dengan sekolah?
Jawaban :
Masyarakat dapat memajukan sekolah dengan adanya interaksi berupa dukungan masyarakat dalam perkembangan kegiatan pembelajaran disekolah. Dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas bahwa masyarakat berperan dalam pengendalian mutu layanan pendidikan. Sumber pelaksana dan pengguna hasil pendidikan. Adapun bentuk-bentuk peran masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah seperti, memberi kontribusi bantuan dana, membantu anak belajar di rumah (keluarga), berkonsultasi masalah pendidikan anak yang biasaya dilakukan pada komite sekolah, pembahasan kebijakan sekolah, serta tidak ditutup kemungkinan dibuatnya kegiatan yang mampu membuat interaksi sekolah dengan masyarakat lebih dekat, seperti penggerakkan peserta didik dalam acara gotong royang sekolah atau pembuatan even/pameran budaya yang melibatkan sekolah dan masyarakat.
Apabila tidak ada hubungannya anatara sekolah dengan masyarakat, sekolah disinyalir akan sukar berkembang, karena tidak adanya kontribusi tenaga, pikiran, dan materi dari masyarkat. Sekolah sendirin mungkin dapat berkembang apabila sekolah merapkan kebijakan yang menunjang kreativitas warga sekolahnya. Tapi kreasi (apabila berbentuk produk) tersebut juga tidak terlalu terlihat karena masyarakat juga merupakan pengguna hasil pendidikan di sekolah.
2. Ada 3 layanan khusus disekolah yakni perpustakaan, kesehatan dan keamanan. Mengapa BK tidak dimasukkan dalam layanan khusus ? dan Bagaimana apabila salah satu layanan tidak ada di sekolah, apakah masih bisa dikatakan sebagai sekolah ?
BK tidak dimasukkan kedalam layanan khusus karena BK memerlukan suatu penanganan khusus dari seorang yang “ahli” pula, jadi layanan ini akan ditindak lanjuti tersendiri oleh orang yang memang memiliki kemampuan tersertifikat di bidang tersebut. Sedangkan untuk tiga layanan khusus dapat diisi oleh tenaga lain seperti guru saat tenaga yang dibutuhkan tidak ada, karena dirasa masih dapat ditangani olah pihak sekolah dalam hal ini guru, penjaga sekolah, pegawai bahkan peserta didik.
Apabila salah satu layanan tidak ada sekolah masih dapat dinamakan sekolah. Hanya saja akan lebih baik apabila layanan lengkap sehingga proses kegiatan sokolah dapat berjalan lancer.
3. Siapa yang berhak menangani sarana prasaranan sekolah ? dan Apakah sarana dan prasarana yang bersifat continue (berkelanjutan) ? dan bagaimana proses administrasinya apabila ada peminjaman dari luar.
Jawaban :
Sarana dan prasarana dikewengani oleh pihak yang diberi tanggung jawab dalam hal ini seperti wakil kepala sekolah bidang Sarana dan prasarana. Yang kemudian bertugas mengkoordinir segala yang berkaitan dengan Sarana dan prasarana sekolah.
Sarana dan prasarana baiknya bersifat berkelanjutan, akan tetapi juga terdapat sekolah yang bisanya tak mampu untuk mengadakan semua jenis sarana dan prasarana sebagai hak milik sekolah. Maka dari itu, biasayan dilakukan peminjaman baik dari lembaga masyarakat, atau pemerintah setempat, misalnya sound system. Masalah mengenai adsministrasi akan diurus oleh sekolah yang mengajukan peminjaman pada lembaga tersebut.



MAKALAH PROFESI KEGURUAN “PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING”

PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING


Kegiatan bimbingan dan konseling dapat mencapai hasil yang efektif bila mana dimulai dari adanya program ynag disusun dengan baik. Program bimbinga berisi rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka pemberian layanan bimbingan dan konseling.
Menurut pendapat Hotch dan Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan untuk membantu individu dalam mengadakan peyesuaian diri.
A. Langkah -langkah penyusunan program bimbingan
Dalam penyusunan program bimbingan perlu ditempuh langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
Langkah ini dilakukan melalui survei untuk menginventarisasi tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah serta kesiapan sekolah yang bersangkutan untuk melaksanakan program bimbingan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan langkah awal pelaksaan program.
2. Pertemuan-pertemuan permulaan dengan para konselor yang telah diunjuk oleh pemimpin sekolah. Tujuan pertemuan ini untuk menyamakan pemikiran tentang perlunya program bimbingan, serta merumuskan arah program yang akan disusun.
3. Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan. Panitia ini bertugas merumuskan tujuan program bimbingan yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tersebut, dan membuat kerangka dasar dari program bimbingan yang akan disusun.
4. Pembentukan panitia penyelenggara program. Panitia ini bertugas mempersiapkan program tes, mempersiapkan dan melaksanakan system pencatatata, dan melatih para pelaksana program bimbingan untuk melaksanakankegiatan tersebut.
B. Orientasi bimbingan dan konseling
Orientasi yang dimaksudkan disini adalah ialah “ pusat perhatian” atau “titik berat pandang”.
1. Orientasi perseorangan (Individu)
    Pada hakikatnya setiap individu itu memiliki perbedaan satu sama lainnya. Perbedaan itu dapat bersumber dari latar belakang pengalamannya, pendidikan, sifat-sifat kepribadian yang dimiliki dan sebagainya. Perbedaan latar belakang individu ini dapat mempengaruhinya dalam cara berpikir, cara berperasaan, dan cara menganalisis masalah. Dalam layanan bimbingan dan konseling hal ini harus menjadi perhatian besar.
   Sejumlah kaidah yang berkaitan dengan orientasi perorangan dalam bimbingan dan koseling dapat diketahui sebagai berikut :
a. Semua kegiatan yang diselenggerakan dalam rangka pelayanan bimbingan dan koseling diarahkan bagi peningkatan perwujudan dari setiap individu yang menjadi sasaran layanan.
b. Pelayanan  bimbingan dan konseling meliputi kegiatan berkenan dengan individu untuk memahami kebutuhan-kebutuhannya, motivasi-motivasinya dan kemampuan potensialnya, yang semuanya unik, serta untuk membantu individu agar dapat menghargai kebutuhan,motivasi, dan potensinya itu kearah pengembangannya yang optimal, dna pemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi diri dan lingkungannya.
c. Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individual.
d. Tanggung jawab konselor untuk memahami minat, kemampuan, dan perasaan klien serta untuk menyesuaikan program-progarm pelayanan dengan kebutuhan klien setepat mungkin.
2. Orientasi perkembangan
     Orientasi perkembangan dalam bimbngan dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya peranan perkembangan yang terjadi dan yag hendaknya diterjadikan pada diri individu. Bimbingan dan konseling memusatkan perhatiannya pada keseluruhan proses perkembangan itu.
     Ivey dan rigazio digilio ( dalam mayer,1992) menekankan bahwa orientasi perkembangan justru merupakan ciri khas yang menjadi inti gerakan bimbingan. Perkembangan merupakan konsep inti dan terpadukan, serta menjaditujuan dari segenap layanan bimbingan dan koseling.
    Masing-masing individu berbeda pada usia perkembangannya. Dalam setiap tahap usia perkembangan, individu yang bersangkutan hendaknya mampu mewujudkan tugas-tugas perkembangannya itu. Pencapaian tugas perkembangan disuatu tahap perkembangan akan mempengaruhi perkembangan berikutnya (Ratna Asmara Pane, 1988).
     Pencapaian atau perwujudan tugas-tugas perkembangan setiap tahap atau periode merupakan salah satu tolak ukur dalam mendeteksi masalah-masalah yang dihadapi klien / siswa.Penyimpangan tingkah laku dan pola pikirdapat diketahui dari pencapaian tugas-tugas perkembangannya.
    Bertolak dari pemahaman tentang perkembangan klien ini, konselor dapat segera mendiaknosis sumber timbulnya permasalahan klien.Dengan demikian pemberian layanan dapat berlangsung efektif dan efisien.
3. Orientasi permasalahan.
     Layanan bimbingan dan konseling harus bertolak dari masalah yang sedang dihadapi oleh klien.Konselor hendaknya tidak terperangkap dalam masalah-masalah lain yang tidak dikeluhkan oleh klien.Hal ini disebut dengan asas kekinian (Prayitno, 1985). Artinya pembahasan masalah difokuskan pada masalah yang saat ini (saat berkonsultasi) dirasakan oleh klien. Oleh karena itu, konselor harus arif dan bijaksana dalam menanggapi pembicaraan klien. Konselor harus selalu sadar akan arah sasaran yang akan dituju untuk memecahkan masalah klien.
Jenis masalah yang mungkin diderita oleh individu umat amat bervariasi. Roos L. Mooney ( dalam Prayitno, 1987) mengidentifikasi 330 masalah yang digolongkan ke dalam sebelas kelompok masalah, yaitu kelompok masalahyang berkenan dengan :
a. Perkembangan jasmani dan kesehatan
b. Keuangan, keaadan lingkungan dan pekerjaan
c. Kegiatan social dan reaksi
d. Hubugan muda-mudi, pacarana dan perkawinan
e. Hubungan social kejiwaan
f. Keaadan pribadi kejiwaan
g. Moral dan agama
h. Keadaan rumah dan keluarga
i. Masa depan Pendidikan dan pekerjaan
j. Penyesuian terhadap tugas-tugas sekolah
k. Kurikulum sekolah dan prosedur pengajara.
C. Ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling
    Pelayanan bimbingan dan konseling memiliki peranan penting, baik bagi individu yang berada dalam lingkungan sekolah, rumah tangga (keluarga), maupun masyarakat pada umumnya.
1. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah 
    Sekolah merupakan Lembaga formal yang secara khusus dibentuk untuk menyelenggerakan Pendidikan bagi warga masyarakat. Dalam kelembagaan sekolah terdapat sejumlah bidang kegiatan dan bidang pelayanan bimbingan dan pelayanan bimbingan konseling dan konseling mempunyai kedudukan peranan yang khusus.
a. Keterkaitan antara bidnag pelayanan bimbingan konseling dan bidang-bidang lainnya.
Dalam proses Pendidikan, khususnya di sekolah, mortensen dan schmuller (1976) mengemukakan adanya bidang-bidang tugas atau pelayanan yang saling terkait. Terdapat tiga bidang pelayanan Pendidikan yaitu bidang kurikulum dan pengajaran, bidang administrasi dan kepemimpinan dan kesiswaan:
1) Bidang kurikulum dan pengajaran meliputi semua bentuk pengembangan kurikulum dan pelaksanaan pengajaran, yaitu penyampaian dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan berkomunikasi peserta didik.
2) Bidang administrasi atau kepemimpinan, yaitu bidang meliputi beragai fungsi berkenan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijaksanaan, serta bentuk-bentuk kegiatan pengolahan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan , pengadaan, dan pengembangan staf, prasarana dan sarana fisik dan pengawasan.
3) Bidang kesiswaan yaitu bidang yang melputi berbagai fungsi dan kegiatan yang mengacu kepada pelayanan kesiswaan secara individual agar masing-masing peserta didik itu dapat berkembang sesuai dengan bakat, potensi, dan minat-minatnya, serta tahap-tahap perkembangannya. Bidang ini dikenal sebagai bidang pelayanan bimbingan dan konseling.
b. Tanggung jawab konselor sekolah
Tenaga inti dalam bidang pelayan bimbingan dan konseling ialah konselor. Konselor inlah yang mengendalikan dan sekaligus melaksanakan berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya itu konselor menjadi “pelayan” bagi pencapaian tujuan Pendidikan secara menyeluruh,khususnya bagi terpenuhinya kebutuhan dan tercapainya tujuan-tujuan perkembangan masing-masing peserta didik. Dalam kaitannya dengan tujuan yang luas itu, konselor tidak hanya berhubungan dengan peserta didik atau siswa saja ( sebagai sarana utama layanan), melainkan juga dengan berbagai pihak yang dapat secara bersama-sama menunjang pencapaian tujuan itu, yaitu sejawat ( sesama konselor, guru, dan personal sekolah lainnya), orang tua dan masyarakat pada umumya. Kepada merekalah konselor menjadi “pelayan” dan tanggung jawab dalam arti penuh dengan kehormatan, dedikasi dan keprofesionalan.)
2. Pelayanan bimbingan dan konseling di luar sekolah
a. Bimbingan dan konseling keluarga
Bimbingan dan konseling keluarga, menrut palmo, dkk., sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Dikatakan, pelayanan tersebut telah dimulai sejak pertengahan tahun 1940-an dan sejak tahun 1980-an pelayanan yang menangani permasalahan dalam keluarga itu tamak berkembang dengan cepat. Pelayanan tersebut ditujukan kepada  seluruh anggota keluarga yang memerlukannya. Segenap fungsi, jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling pada dasarnya dapat diterapkan dengan memperhatikan kesesuaian dengan masing-masing kerakteristik anggota keluarga yang memerlukan pelayanan itu. Khusus untuk anggota keluarga yang masih duduk dibangku Pendidikan formal, peranan konselor sekolah amat besar.
b. Bimbingan dan konseling dalam lingkungan yang lebih luas.
Pelayanan bimbingan dan lonseling yang menjangkau daerah kerja yanglebih luas itu perlu diselenggerakan oleh konselor yang bersifat multidimensional (chiles & eiken, 1983), yaitu yang mampu bekerja sama selain dengan guu, administrator, dan orang tua, juga dengan berbagai komponen dan Lembaga di masyarakat secara lebih luas. Konselor seperti itu bekerja dengan masalah-masalah personal. Emosional, social, Pendidikan, dan pekerjaan, yang kesemuanya itu untuk mencegah timbulnya masalah, pengentasan masalah, dan menunjang perkembangan individu anggota masyarakat.
D. Jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling
    Menurut Sukardi (2008: 60), ada sejumlah layanan dalam bimbingan dan konseling di sekolah diantaranya sebagai berikut :
1. Layanan orientasi
      Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dana tau seseorang terhadap lingkungan yang dimasukinya.
     Layanan orientasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik dan pihak – pihak lain yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap peserta didik (terutama orang tua) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta didik untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru ini.
Materi kegiatan layanan orientasi menyangkut:
a. Pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah.
b. Peraturan dan hak – hak serta kewajiban siswa.
c. Organisasi dan wadah – wadah yang dapat membantu dan meningkatka hubungan soaial siswa.
d. Kurikulum dengan seluruh aspek – aspeknya.
e. Peranan kegiatan bimbingan karier.
f. Peranan pelayanan bimbingan dan konseling dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan siswa.
2. Layanan informasi
     Secara umum, Bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau renacana yang dikehendaki.
     Layanan informasi yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak – pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) dalam menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehari – hari sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.
Materi layanan informasi menyagkut:
a. Tugas – tugas perkembangan masa remaja akhir, yaitu tentang kemampuan dan perkembangan pribadi.
b. Usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, minat, serta bentuk – bentuk penyaluran dan pengembangannya.
c. Tata tertib sekolah, cara bertingkah laku, tata karma, dan sopan santun.
d. Nilai – nilai sosial, adat istiadat, dan upaya yang berlaku dan perkembangan di masyarakat.
e. Mata pelajaran dan pembidangannya.
f. System penjurusan, kenaikan kelas, dan syarat – syarat mengikuti ujian akhir.
g. Fasilitas penunjang/ sumber belajar.
h. Cara mempersiapkan diri dan belajar di sekolah.
i. Syarat – syarat memasuki jabatan, kondisi jabatan/karier serta prospeknya.
j. Langkah – langkah yang perlu ditempuh guna menentukan jabatan/karier.
k. Memasuki perguruan tinggi yang sejalan dengan cita – cita karier.
l. Pelaksanaan pelayanan bantuan untuk masalah pribadi, sosial, belajar, dan karier.
3. Layanan penempatan dan penyaluran
    Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan/penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan atau program studi, program pilihan, kegiatan ekstra kurikuler) sesuai dengan potensi, bakat, dan minat serta kondisi pribadinya.
     Individu sering mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan, sehingga tidak sedikit individu yang bakat, kemampuan minat, dan hobinya tidak tersalurkan dengan baik. Sehingga mereka memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang-orang dewas, terutama konselor, dlam menyalurkan potensi dan mengembangkan dirinya.
Materi kegiatan layanan penempatandan penyaluran meliputi;
a. Penempatan kelas siswa, program studi/jurusan dann pilihan ekstra kurikuler yang dapat menunjang pengembangan sikap, kebiasaan, kemampuan, bakat, dan minat.
b. Penempatan dan penyaluran dalam kelompok sebaya, kelompok belajar, dan organisasi kesiswaan serta kegiatan sosial sekolah.
c. Membantu dalam kegiatan program khusus sesuai dengan kebutuha siswa.
d. Menempatkan dan menyalurkan siswa pada kelompok yang membahas pilihan khusus program studi sesuai dengan rencana karier, kelompok latihan keterampilan dan kegiatan ekstrakurikuler atau magang yang diadakan sekolah atau lembaga kerja/industri.
4. Layanan bimbingan belajar
      Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kesenian.
Materi kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi;
a. Mengembangkan pemahaman diri, terutama pemahaman sikap, sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan – kekuatan dan penyalurannya, kelemahan – kelemahan dan penanggulangannya, dan usaha – usaha pencapaian cita – cita/perencanaan masa depan.
b. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkah laku dalam hubungan sosial dengan teman sebaya, guru, dan masyarakat luas.
c. Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secara efektif dan efisien.
d. Teknik penguasaan materi pelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi, dan kesenian.
e. Membantu memantapkan pilihan karier yang hendak dikembangkan melalui orientasi dan informasi dunia kerja dan perguruan tinggi yang sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.
f. Orientasi belajaar di perguruan tinggi
g. Orientasi hidup berkeluarga.
5. Layanan konseling perorangan
    Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mendaptkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing/konselor dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahannya.
Materi layanan konseling perorangan meliputi;
a. Pemahaman sikap, kebiasaan, kekuatan diri dan kelemahan, bakat dan minat, serta penyalurannya.
b. Pengentasan kelemahan diri dan pengembangan kekuatan diri.
c. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menerima dan menyampaikan pendapat, bertingkah laku sosial, baik di rumah, sekolah, dan masyarakat.
d. Mengembangkan sikap kebiasaan belajar yang baik, disiplin, dan berlatih pengenalan belajar sesuai dengan kemampuan kebiasaan, dan potensi diri.
e. Pemantapan pilihan jurusan dan perguruan tinggi.
f. Pengembangan dan pemantapan kecenderungan karier dan pendidikan lanjutan yang sesuai dengan rencana karier.
g. Informasi karier, dunia kerja, penghasilan, dan prospek masa depan karier.
6. Layanan bimbingan dan konseling kelompok
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok.Dinamika kelompok adalah suasana yang hidup, yang berdenyut, yang bergerak, yang berkembang, yang ditandai dengan adanya interaksi antarsesama anggota kelompok.Pelayanan konseling kelompok merupakan pelayanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok.
Materi layanan konseling kelompok mencakup:
a. Pemahaman dan pengembangan sikap, kebiasaan, bakat, minat, dan penyalurannya.
b. Pemahaman kelemahan diri dan penanggulangannya, pengenalan kekuatan diri dan pengembangannya.
c. Perencanaan dan perwujudan diri.
d. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menerima/menyampaikan pendapat, bertingkah laku dan hubungan sosial, baik di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
e. Mengembangkan hubungan teman sebaya baik di rumah, di sekolah, dan di masyarakat sesuai dengan kondisi, peraturan materi pelajaran.
f. Mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar, disiplin belajar, dan berlatih, serta teknik – teknik penguasaan materi pelajaran.
g. Pemahaman kondisi fisik, sosial, dan budaya dalam kaitannya dengan orientasi belajar di perguruan tinggi.
h. Mengembangkan kecenderungan karier yang menjadi pilihan siswa.
i. Orientasi dan informasi karier, dunia kerja, dan prospek masa depan.
j. Informasi perguruan tinggi yang sesuai dengan karier yang akan dikembangkan.
k. Pemantapan dalam mengambil keputusan dalam rangka perwujudan diri.
Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup:
1) Aplikasi Instrumentasi Data;merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuanuntuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
2) Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup.
3) Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
4) Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.
5) Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.


PENUTUP
A. Kesimpulan
     Layanan bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuanyang diberikan kepada siswa secara terus menerus agar tercapai kemandiriandalam pemahaman diri dan siswa dapat mencapai perkembangan yang optimal,sesuai dengan potensinya sehingga siswa sanggup mengarahkan dirinya sesuaidengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.Sejalan dengan visi tersebut, maka misi bimbingan dan konseling harus membantu memudahkan siswa mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya seoptimal mungkin, sehingga terwujud siswa yang tangguh menghadapi masa kini dan masa mendatang.
    Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral darikeseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antarapersonel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas. Kegiatanbimbingan dan konseling mencakup banyak aspek dan saling kait mengkait,sehingga tidak memungkinkan jika layanan bimbingan dan konseling hanyamenjadi tanggung jawab konselor saja.













DAFTAR PUSTAKA
Prayitno,. Erman Amti.2004. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta:Rineka Cipta.
Soetjipto,. Raflis Kosasi.2007. Profesi Keguruan. Jakarta:Rineka Cipta
http://akhmadsudrajat.wordpress.com
http://dirgamath29.wordpress.com























MAKALAH PROFESI KEGURUAN
“PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING”


                                     

Industri tekstil

INDUSTRI TEKSTIL

A. Pengertian Industri Tekstil
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Tekstil adalah bahan yang berasal dari serat yang diolah menjadi benang atau kain sebagai bahan untuk pembuatan busana dan berbagai produk kerajinan lainnya. Dari pengertian tekstil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa bahan/produk tekstil meliputi produk serat, benang, kain, pakaian dan berbagai jenis benda yang terbuat dari serat.  Jadi industri tekstil adalah industri yang mengolah serat menjadi benang kemudian menjadi busana, baik itu busana muslim atau lainya.
B. Proses Pembuatan
Sebelum   kapas   diproses   pada   mesin   blowing,   terlebih   dahulu   kapas dikeluarkan dari gudang, kemudian kapas yang masih dalam keadaan terbungkus dan terikat, di bawa ke Bill Store untuk dibuka dan dilepaskan ikatannya agar kapas kembali ke dalam bentuk semula dan dibiarkan untuk diangin-anginkan selama ±24 jam. Kemudian kapas yang dibuat lap lalu dikerjakan pada mesin carding, lap akan mengalami pembersihan, pemisahan, penarikan dengan mesin pre drawing untuk dapat dibuat sliver, selanjutnya dikerjakan pada mesin yang lebih rata seratnya, dengan jalan 8 sliver dijadikan sliver ditarik diantara rol-rol.
Selanjutnya dikerjakan pada mesin lap former untuk dibuat lap   yaitu 8 sliver dimasukkan pada mesin ini. Dengan ditarik agar seratnya searah panjang dan pendek terpisah maka lap dikerjakan pada mesin lap pendek akan terkumpul menjadi kotoran, sedang serat panjang dibuat silver yang terdiri serat panjang saja. Serat silver yang dapat diproses kembali untuk dijadikan benang carded dengan nomor 15 dan 35 atau sebagai campuran untuk membuat benang-benang carded dengan No.30 S dan 40 S.
Sliver hasil combing selanjutnya dikerjakan pada mesin drawing (I dan II) untuk dibuat sliver yang baik karena sliver hasil combing merupakan bahan baku untuk pembuatan benang halus dan ini diproses pada mesin speed frame. Dengan sedikit ditarik dan dipilin akan menghasilkan sliver dengan ukuran lebih kecil yang disebut roving. Roving ini hasil dari mesin speed frame dibuat  benang tunggal selanjutnya dapat diperdagangkan baik dalam bentuk cone (pada mesin cone winder) atau benang double mesin quick traverse, hant dan lain-lain.

Industri semen

INDUSTRI SEMEN

A. Pengertian Industri Semen
Semen merupakan bahan perekat bangunan (batu-batuan) yang bekerja dengan cara mengikat antar material-material bangunan menjadi satu kesatuan padatan yang stabil. Semen adalah suatu produk yang diperoleh dari proses pembubukan dan penghancuran (penggilingan) klinker yang penyusun utamanya adalah senyawa-senyawa silikat.
B. Bahan Baku Pembuatan Semen
1. Batu kapur
2. Tanah liat
3. Gypsum
C. Uraian Proses
Batu kapur ditambah tanah liat diumpankan ke pulverizer untuk digiling, kemudian masuk ke tube mill. Di tube mill terjadi penghalusan dalam keadaan basah. Setelah dihaluskan di tube mill, hasilnya dipisahkan dengan classifier. Hasil dari clasifier ada 2 jenis, yaitu padatan dan berupa slurry. Padatan dikembalikan lagi ke tube mill untuk dihaluskan lagi, sedangkan yang berupa slurry di alirkan ke rotary filter. Di rotary filter, slurry yang dialirkan tadi di filtrasi, dimana hasilnya berupa cairan dan padatan. Yang cairan di alirkan ke tube mill dan berupa padatan di tambah slurry dan di masukkan ke waste heat boiler. Di waste heat boiler padatan dipanasi. Dari bagian atas samping boiler menghasilkan udara dan debu. Debu dialirkan ke boiler lagi oleh fan untuk di recycle, sedangkan udara dikeluarkan.
Selanjutanya campuran padatan tadi di alirkan ke klin. Di dalam klin terjadi proses kalasinasi dan klinkerisasi. Klasinasi adalah proses reaksi peruraian karbonat (CaCO3) menjadi CaO dan CO2 disebabakan adanya kontak dengan panas. Besarnya CaO yang dihasilkan dari suatu proses kalsinasi disebut derajat kalsinasi. Sedangkan klinkerisasi adalah proses pembentukan komponen utama yang terdapat dalam semen Hasil dari klin disebut klinker.
Reaksi yang terjadi di klin
CaCO3 CaO + CO2
CaO + Al2O3 + SiO2 +  campuran C3S, C2S, C3A
Dimana:
3CaO + Al2O3 3CaO.Al2O3 (C3A)
2CaO + SiO2 2CaO.SiO2 (C2S)
CaO + 2CaO.SiO2 3CaO.SiO2 (C3S)

Gas panas yang digunakan di klin diambil dari hasil pembakaran bahan bakar berasal dari belakang klin. Dikarenakan adanya putaran dan posisi klin yang miring (rendah di bagian belakang) maka material padatan bergerak dari depan ke belakang.
Selama pergerakan, terjadi kontak antara material dengan gas panas yang bergerak ke depan. Semakin kearah belakang temperatur semaking tinggi, sehingga akan terjadi proses perubahan wujud dan komposisi dari klin feed menjadi klinker.
Klinker lalu dialirkan ke cooler, disini klinker akan membentuk menjadi butiran- butiran disebabkan pendinginan yang mendadak. Pendinginan ini menggunakan udara yang dimasukkan ke cooler.Udara ini menjadi udara panas setelah digunakan untuk pendinginan, selanjutnya udara panas ini dimanfaatkan untuk proses pembakaran di klin.
Dari cooler butiran ini disimpan sementara di clinker storage. Lalu butiran- butiran klinker ini di haluskan kembali dan dicampur gypsum. Untuk mendapatkan butiran yang homogen, klin diayak di peripheral screen. Peripheral screen ini terdiri dari beberapa tingkat, jadi klin akan masuk ke ayakan ke- 1. Ukuran yang lolos dari ayakan akan dilanjutkan ke ayakan berikutnya, sedangkan yang tertinggal akan dikembalikan ke masukan awal atau dimasukkan ke tube mill, dimana kedua- duanya bertujuan untuk menghaluskan kembali agar dapat lolos ayakan. Dari pengayakan ini akan dihasilkan semen dengan ukuran yang sama.
D. Kegunaan
Kegunaan semen pada aplikasi  di kehidupan antra lain:
Dapat digunakan untuk membangun rumah
Dapat digunakan untuk membangun bangunan pada umumnya
Dapat digunakan untuk membuat jalan , jembatan dan pabrik
Dapat digunakan untuk suatu bendungan
Dapat digunakan untuk membuat terowongan

RPP sifat koligatif larutan kelas XII SMA


 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan : SMAN 1 Sinjai Selatan
Kelas/Semester : XII/I
Mata Pelajaran : Kimia
Materi Pokok : Sifat Koligatif larutan
Pertemuan Ke- : 2
Alokasi Waktu : 1 × 3 JP × 45 menit

Kompetensi Inti :
KI.3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan
faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa inigin tahunya tentang ilmu pengetahuan , teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

Kompetensi Dasar :
3.2. Membedakan sifat koligatif larutan elektrolit dan non elektrolit

Indikator Pencapaian Kompetensi :
Menjelaskan kenaikan titik didih dan penurunan titik beku
menghitung kenaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan
Menemukan hubungan jumlah partikel zat pelarut dengan sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif non elektrolit

Tujuan Pembelajaran :
Siswa dapat menjelaskan kenaikan titik didih dan penurunan titik beku
Siswa dapat menghitung kenaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan
Siswa dapat menemukan hubungan jumlah partikel zat pelarut dengan sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif non elektrolit


Materi Pembelajaran :
Fakta: Sifat Koligatif larutan (air mendidih, es membeku)
Konsep: Definisi sifat koligatif larutan, penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmosis.
Prinsip: Rumus menghitung penurunan tekanan uap (ΔP),  menghitung kenaikan titik didih (ΔTb), menghitung penurunan  titik beku (ΔTf)

Zat elektrolit jika dilarutkan akan terionisasi menjadi ion-ion yang merupakan partikel-partikel di dalam larutan ini. Hal ini menyebabkan jumlah partikel pada satu mol larutan elektrolit lebih banyak daripada larutan nonelektrolit. Misalnya, larutan nonelektrolit C6H12O6, jika dimasukkan ke dalam air menghasilkan 1 mol partikel, sehingga larutan C6H12O6 1 M akan membeku pada suhu 1,86 °C di bawah titik beku air murni, sedangkan 1 mol larutan elektrolit NaCl mengandung 2 mol partikel, yaitu 1 mol Na+ dan 1 mol Cl-. Larutan NaCl 1 M sebenarnya mengandung 1 mol partikel per 1.000 gram air, secara teoretis akan menurunkan titik beku 2 × 1,86 °C = 3,72 °C.  Sedangkan larutan CaCl2 1 M mempunyai 3 mol ion per 1.000 g air, secara teoretis akan menurunkan titik beku tiga kali lebih besar dibandingkan larutan C6H12O6 1 M.
Contoh:
C6H12O6 (s)        C6H12O6 (aq)
    1 mol................. 1 mol
Jumlah partikelnya 1 × 6,02 × 1023 molekul.
NaCl(s)        Na+(aq) + Cl–(aq)
1 mol ........ .1 mol......... 1 mol
Jumlah partikelnya 2 × 6,02 × 1023 (ion Na+ dan Cl–).
CaCl2 (s)         Ca2+(aq) + 2 Cl–(aq)
1 mol...........   1.mol .......2 mol
Jumlah partikelnya 3 × 6,02 × 1023 partikel (ion Ca2+ dan ion Cl–).
Banyak ion yang dihasilkan dari zat elektrolit tergantung pada derajat ionisasinya (α). Larutan elektrolit kuat mempunyai derajat ionisasi lebih besar daripada
larutan elektrolit lemah, yaitu mendekati satu untuk larutan elektrolit kuat dan mendekati nol untuk larutan elektrolit lemah. Derajat ionisasi dirumuskan sebagai berikut.
α = jumlah molekul zat yang terurai/jumlah molekul mula-mula
Menurut Van’t Hoff, i = 1 + (n – 1)α
i= jumlah partikel yang diukur/jumlah partikel yang diperkirakan
Sifat koligatif larutan elektrolit adalah sebagai berikut:
1. Kenaikan titik didih
ΔTb = Kb ×m{1 + (n −1) α}
2. Penurunan titik beku
ΔTf = Kf ×m{1 + (n −1) α}
Keterangan:
n = jumlah ion yang dihasilkan dari ionisasi satu molekul zat elektrolit
α = derajat ionisasi zat elektrolit

Hal-hal yang perlu diperhatikan berhubungan dengan larutan elektrolit antara lain:
1. Jumlah Ion yang dihasilkan
Elektrolit yang menghasilkan dua ion (n = 2), yaitu CH3COOH, HCl, NaOH,    NaCl.
Elektrolit yang menghasilkan tiga ion (n = 3), yaitu Ca(OH)2, H2SO4, Na2CO3
Elektrolit yang menghasilkan empat ion yaitu FeCl3, AlCl3.
Makin banyak ion yang dihasilkan dari larutan elektrolit, makin besar pula harga ΔTb dan ΔTf.
Besarnya harga α menunjukkan kuatnya larutan elektrolit.
Makin besar harga α, makin besar pula harga ΔTb dan ΔTf.
4. Larutan elektrolit kuat mempunyai α = 1.
ΔTb = Kb × m × n
ΔTf = Kf × m × n

Contoh soal:
Tetapan kenaikan titik didih molal air adalah 0,5 °C/m.
Jika 1 mol H2SO4 dilarutkan dalam 100 gram air dan
dipanaskan, tentukan kenaikan titik didih dan titik didih
larutan tersebut!
Jawab:
ΔTb = Kb × m × n
= 0,5 × 1 × 3
ΔTb = 1,5 °C
Titik didih larutan = 100 °C + 1,5 °C = 101,5 °C.
Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku  Sifat Koligatif larutan nonelektrolit
Kenaikan Titik Didih
Adanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik didih larutan lebih tinggi dari titik didih pelarut murni. Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:
ΔTb = m . Kb
keterangan:
ΔTb = kenaikan titik didih (oC)
m      = molalitas larutan
Kb = tetapan kenaikan titik didihmolal
Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih larutan dinyatakan sebagai :
Tb = (100 + ΔTb) oC
Penurunan Titik Beku
Untuk penurunan titik beku persamaannya dinyatakan sebagai:
ΔTf = m . Kf
Keterangan:
ΔTf     = penurunan titik beku
m      = molalitas larutan
Kf      = tetapan penurunan titik beku molal
Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku larutannya dinyatakan sebagai:
Tf = (O – ΔTf)oC

Metode Pembelajaran :
Pendekatan : Scientific
Model : Discovery Learning
Strategi : Kooperatif
Metode        : Diskusi kelompok, tanya jawab, penugasan

Kegiatan Pembelajaran:
Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu
Pendahuluan Guru masuk ke dalam kelas dengan  memberi salam
Guru menanyakan kabar peserta didik
Guru membimbing siswa untuk berdoa sebelum memulai materi
Guru mengecek kehadiran peserta didik
Guru membimbing siswa untuk merapikan pakaian dan menyingkirkan sampah yang ada disekitar mereka
Apersepsi : menanyakan  ingatkah kalian tentang apa saja sifat koligatif larutan?
Guru menyampaikan KD dan tujuan pembelajaran
Guru mebagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang tiap kelompok




10 menit
Inti Mengamati (observing)
Guru menyajikan bahan kajian berupa gambar yang berkaitan dengan penurunan titik beku (terlampir)
Peserta didik mengamati gambar
Menanya (Questioning)
Guru mengajukan pertanyaan mengenai pemahaman peserta didik terhadap gambar yang telah ditayangkan. 
Siswa mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah:
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Apa yang mereka taburkan sehingga salju tersebut bisa mencair?
Bagaimana cara mencairkan salju tersebut?
Guru membagikan LKPD pada setiap kelompok dan  mengarahkan peserta didik untuk membaca materi pada LKPD

Pengumpulan data (Experimenting)
Setiap peserta didik berdiskusi dengan kelompoknya untuk mendapatkan informasi mengenai kenaikan titik didih dan penurunan titik beku
Peserta didik mengumpulkan informasi dari berbagai sumber tentang perhitungan kenaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan
Mengasosiasi(associating)
Peserta didik menghitung ataupun menjawab soal yang diberikan oleh guru dengan menggunakan rumus yang telah didapatkan
Peserta didik membuat rangkuman informasi yang didapat dari berbagai sumber tentang kenaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan
Mengkomunikasikan(communicating)
Setiap kelompok memaparkan hasil kerja kelompoknya dan mengomunikasikan kepada guru ataupun temannya yang lain tentang penurunan titik beku. Anggota kelompok lain dapat bertanya melalui kegiatan Tanya jawab.





20 menit
Penutup Mendorong peserta didik untuk menyimpulkan materi mengenai kenaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan
Guru memberikan penguatan
Evaluasi
Tindak lanjut
Salam
10 menit

G. Alat dan Sumber Belajar :
- Alat dan Bahan
Papan tulis
Spidol
Buku catatan
Power point
LCD
- Sumber Belajar
Sudarmo, U. 2013. Kimia untuk SMA kelas XII. Jakarta: Erlangga
Saidah, A. dan Michael P. 2013. Kimia Bidang Keahlian Teknologi Dan Rekayasa Untuk SMK/MAK Kelas XII. Jakarta: Erlangga
Artikel artikel terkait sifat koligatif larutan

H. Penilaian Proses dan Hasil Belajar :
     Penilaian Proses dan Hasil Belajar
1. Teknik
Penilaian kognitif : Tes tertulis
Penilaian afektif : Sikap siswa selama pembelajaran berlangsung
Penilain Psikomotorik : keterampilan saat pemecahan masalah dalam diskusi

     2. Bentuk
Soal tes essai
     3. Instrumen (Tes dan Non Tes)
Instrumen Penilaian Kognitif

Instrumen Penilaian Afektif
Penilaian afektif menggunakan lembar observasi yang terlampir pada Pedoman Penilaian,Self Assessment, dan Peer Assessment.
Instrumen Penilaian Psikomotor
Penilaian psikomotor menggunakan lembar observasi diskusi yang terlampir pada Pedoman Penilaian

     4. Kunci dan Pedoman Penskoran
Penilaian Kognitif
Berikut adalah data titik didih dan titik beku (Tf) berbagai larutan elektrolit dan nonelektrolit.
No. Senyawa Kemolalan (m) Kenaikan  titik didih (℃) Penurunan titik beku (℃)
1. C12H22O11 0,1 0,052 0,186
2. CO (NH2) 0,1 0,052 0,186
3. KCl 0,1 0,104 0,372
4. NaNO2 0,1 0,104 0,372
5. CaCl2 0,1 0,156 0,558

Berdasarkan datahubungan jumlah partikel dengan kenaikan titik didih dan penurunan titik beku tersebut, dapat disimpulkan bahwa…..

Kunci: pada data di atas dapat dilihat bahwadengan kemolalan yang sama, larutan-arutan elektrolit menghasilkan kenaikan titik didih dan penurunan titik beku yang lebih tinggi. Untuk tiap mol zat nonelektrolit terdiri atas 6,02×1023 partikel, tetapi pada larutan elektrolit, seperti KCl, terdiri atas satu mol K+ dan satu mol Cl-. Berarti pada KCl terdapat 2 × 6,02×1023. Hal inilah yang menyebabkan penurunan titik beku dan kenaikan titik didih KCl dua kali lipat dari penurunan titik beku dan kenaikan titik didih dari C12H22O11 atau CO (NH2). Adapun CaCl2 terdiri atas 1 mol Ca2+ dan 2 mol Cl- sehingga penurunan titik beku dan kenaikan titik didh yang dihasilkan tiga kali lipat dari larutan nonelektrolit.
Jika 5,55 gram CaCl2dilarutkan dalam 250 gram air dan diketahui Kf air = 1,86; tentukan titik beku larutan tersebut.
Kunci: CaCl2 merupakan zat elektrolit kuat yang akan mengalami ionisasi dalam larutan, ehingga faktor van’t hoff sama dengan jumlah kation dan anion senyawa tersebut (i=n).
CaCl2 Ca2+ + 2Cl- jadi nilai i = 3
Jumlah mol CaCl2 = (massa Ca〖Cl〗_2)/(massa molar Ca〖Cl〗_2 ) = (5,5 g)/(111 g/mol) = 0,05 mol
Kemolaran = m = (jumlah mol Ca〖Cl〗_2)/(massa pelarut) = (0,05 mol)/(0,25 g kg) = 0,2 m
∆ T_f = Kf × m × i
= 1,86 oC m-1 × 0,2 m ×3
= 1,116 oC
∆ T_f = Tfo – Tf
Tf = Tfo - ∆ T_f
= 0 oC – 1,116 oC
= -1,116 oC
Jadi, titik beku larutan tersebut -1,116 oC

Massa 7,3 gram HCl (Mr= 36,5) dilarutkan dalam 200 gram air. Berapa titik didih larutan jika Kb air = 0,5?
Kunci:
∆ T_b = Kb × m × i
= Kb × g/Mr  × 1000/p   ×  i
= Kb × 7,3/36,5  × 1000/200   ×  2
= 1 oC
∆ b = Tb + Tbo
= 100 oC + 1 oC
= 101 oC
Jadi, titik didih larutan adalah  101 oC
Tabel penilaian hasil tes
No. Nama siswa Nomor soal Skor
1 2 3
1.
2.
3.
4.
5.
...




Penilaian Afektif
Tujuan Sikap:
Siswa mampu menunjukkan perilaku sopan dalam melakukan diskusi kelompok serta memecahkan masalah dalam diskusi kelompok.
No. Nama Siswa Aspek yang Dinilai Skor Total
Sopan Bertanggung Jawab Jujur
0 1 2 0 1 2 0 1 2
1.
2.
3.
...


Rubrik:
0 : jika tidak sopan pada saat berdiskusi,  tidak bertanggung jawab atas jawaban yang telah diberikan, serta tidak jujur dalam menuliskan hasil diskusi kelompok.
1 : jika sopan dalam pada saat diskusi, tidak bertanggung jawab atas jawaban yang telah diberikan, serta tidak jujur dalam menuliskan hasil diskusi kelompok. Namun masih malu-malu dalam menyampaikan pendapat.
2 : jika sopan dalam pada saat diskusi, tidak bertanggung jawab atas jawaban yang telah diberikan, serta tidak jujur dalam menuliskan hasil diskusi kelompok.


Tujuan Afektif:
Siswa mampu menunjukkan sikap aktif dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan terkait senyawa hidrokarbon dan minyak bumi.
No. Nama Siswa Aspek yang Dinilai Skor Total
Aktif Bertanya Aktif Menjawab
0 1 2 0 1 2
1.
2.
3.
...
Rubrik:
0 : jika tidak aktif dalam bertanya dan menjawab pertanyaan yang disampaikan.
1 : jika  bertanya dan menjawab pertanyaan  yang disampaikan, namun tidak sistematis dalam menyampaikan pertanyaan dan salah konsepnya ketika menjawab.
2 : jika  bertanya dan menjawab  pertanyaan yang disampaikan, serta sistematis dalam menyampaikan pertanyaan dan benar konsepnya ketika menjawab.

Penilaian Psikomotor

No. Nama Siswa Aspek yang Dinilai Skor Total
Penggunaan Bahasa Kecakapan dalam Berbicara
0 1 2 0 1 2
1.
2.
3.
...
Rubrik:
0 : jika tidak  menggunakan bahasa yang sopan  atau tidak mahir dalam menyampaikan informasi hasil diskusi kelompok.
1 : jika  menggunakan  bahasa  yang  sopan  namun  tidak  percaya  diri  dalam  berbicara atau kurang mahir dalam menyampaikan informasi hasil diskusi kelompok secara sistematis.
2 : jika  menggunakan  bahasa  yang  sopan  atau  mahir  dalam  menyampaikan  informasi hasil diskusi kelompok secara sistematis.





Semoga bermanfaat😇

Monday, 12 February 2018

pendekatan pembelajaran



PENDEKATAN
PEMBELAJARAN
 


KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “PENDEKATAN PEMBELAJARAN” dengan baik. Makalah ini di susun berdasarkan tugas dari proses pembelajaran yang di berikan oleh dosen pembimbing kepada penulis.
Dengan penuh kerendahan hati secara tulus penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah turut membantu dalam penulisan makalah ini terutama kepada Dosen Pembimbig yang telah banyak meluangkan waktunya demi memberikan bimbingan, arahan, motivasi, hingga selesainya penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi para pembaca. Selain itu, harapan penulis semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.
Penulis juga menyadari bahwa dalam menyusun dan membuat makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu, penulis sangat mengharapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah ini.

Sabtu, 9 September 2017

                                                                                                   Penulis


DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................................... i   
Daftar Isi............................................................................................................... ii
Bab 1 Pendahulan
A.    Latar Belakang..................................................................................... .... 1
B.     Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.     Tujuan........................................................................................................ 2
Bab 2 Pembahasan
A.    Pengertian Pendekatan Pembelajaran................................................... .... 3  
B.     Fungsi Pendekatan Pembelajaran.............................................................. 4  
C.     Jenis Pendekatan Pembelajaran ................................................................ 5  
Bab 3 Penutup
1.      Kesimpulan........................................................................................... .... 8
2.      Saran.......................................................................................................... 8
Daftar Pustaka..................................................................................................     iii


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Beakang
Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan intruksional untuk suatu satuan intruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disamapikan guru dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Pada pokoknya pendekatan pembelajaran dilakukan oleh guru untuk menjelaskan materi pelajaran dari bagian-bagian yang satu dengan bagian lainnya berorientasi pada pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa untuk mempelajari konsep, prinsip atau teori yang baru tentang suatu bidang ilmu.
Sehingga dalam  mengajar diperlukan pendekatan dalam pembelajaran , pendidik harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap pendidik tidak selalu memiliki suatu pandangan yang sama dalam hal mendidik anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang pendidik ambil dalam  pengajaranPendidik yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya, akan berbeda dengan pendidik yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting untuk meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Untuk itu pendidik perlu menyadari dan memaklumi bahwasanya anak didik itu merupakan individu dengan segala  perbedaannya sehingga diperlukan beberapa pendekatan dalam  proses belajar mengajar.
B.            Rumusan Masalah
1.        Bagaimana pendekatan yang dilakukan dalam pembelajaran ?
2.        Apa fungsi-fungsi dari pendekatan dalam pembelajaran ?
3.        Apa jenis-jenis pendekatan dalam pembelajaran ?

C.           Tujuan
1.      Mengetahui pendekatan yang dilakukan dalam pembelajaran.
2.      Mengetahui fungsi-fungsi dari pendekatan dalam pembelajaran.
3.      Mengetahui jenis-jenis pendekatan dalam pembelajaran.

























BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Pendekatan dalam Pembelajaran
Interaksi dalam pembelajaran adalah bagaimana cara guru dapat meningkatkan motivasi belajar dari siswa. Hal ini berkaitan dengan strategi apa yang dipakai oleh guru, bagaimana guru melakukan pendekatan terhadap siswanya. Dalam sebuah pembelajaran yang baik guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator.
Dalam peranannya sebagai pembimbing, guru berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru sebagai fasilitator, guru berusaha memberikan fasilitas yang baik melalui pendekatan-pendekatan yang dilakukan. Proses interaksi pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa ialah bagaimana cara guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan karakter pembelajaran.Pendekatan (approach) pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan sisiwa. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Di lihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
1.      Pendekatan yang berpusat atau berorientasi pada pada  siswa  (student  centered  approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru melakukan pendekatan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran
2.      Pendekatan  pembelajaran  yang  berorientasi  atau berpusat pada guru (teacher centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran.

B.            Fungsi Pendekatan dalam Pembelajaran
Fungsi pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
1.      Sebagai pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode pembelajaran yang akan digunakan.
2.      Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
3.      Menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
4.      Mendiaknosis masalah-masalah belajar  yang timbul.
5.      Menilai hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan.

C.           Jenis-Jenis Pendekatan dalam Pembelajaran
1.      Pendekatan Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya.
Pendekatan konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.pendekatan kontekstual sendiri dilakukan dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran yang efektif yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian sebenarnya.
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu :
  1. Mengaitkan. adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
  2. Mengalami. merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
  3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
  4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
  5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan
Kelebihan pendekatan Kontekstual
  1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
  2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
Kelemahan Pendekatan Kontekstual
  1. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
2.      Pendekatan Kontruktivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Olek karena itu , guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan unutk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi.Jadi pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya
Konstrukstivisme Sosial
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.


Kelebihan Pendekatan Konstruktivisme
Dalam penerapannya, pendekatan konstruktivisme memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Ella (2004:55) menjelaskan bahwa pendekatan konstruktivisme membantu siswa menguasai tiga hal , yaitu:
  1. Siswa diajak memahami dan menafsirkan kenyataan dan pengalamannya yang berbeda.
  2. Siswa lebih mampu mengatasi masalah dalam kehidupan nyata.
  3. Pemahaman konstruktivisme, yaitu membangun dan mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan dan keahlian dalam situasi kehidupan nyata.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan konstruktivisme memiliki berbagai kelebihan antara lain:
  1. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme siswa akan aktif dalam pembelajaran
  2. Menjadikan proses pembelajaran tersebut menyenangkan dan lebih bermakna bagi siswa
  3. Siswa membangun sendiri pengetahuannya maka siswa tidak mudah lupa dengan pengetahuannya
  4. Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan sehingga siswa tidak cepat bosan belajar
  5. Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka, karena setiap jawaban siswa ada penilaiannya
  6. Memupuk kerjasama dalam kelompok.
Dengan adanya kelebihan pada pendekatan konstruktivisme ini maka siswa di harapkan dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai cara, jadi peserta didik akan terlatih untuk dapat menerapkannya dengan situasi yang berbeda atau baru.


Kekurangan Pendekatan Konstruktivisme
Selain memiliki kelebihan pendekatan konstruktivisme juga memiliki kekurangan. Namun kekurangan ini dapat kita atasi seperti:
  1. Siswa masih kesulitan dalam menemukan sendiri jawabannya
  2. Membutuhkan waktu yang lama terutama bagi siswa yang lemah
  3. Siswa yang pandai kadang-kadang tidak sabar dalam menanti temannya yang belum selesai.
Dari uraian tadi dapat disimpulkan kelemahan pendekatan konstruktivisme dapat ditolerir, maka guru hendaknya dapat membimbing siswa agar dapat menemukan jawabannya, kemudian guru menambah waktu belajar bagi siswa yang lemah dalam proses pembelajaran, serta memberikan nasehat agar menghargai teman dalam belajar Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

3.      Pendekatan Deduktif
Pembelajaran dengan pendekatan deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional yaitu guru memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Dalam bidang ilmu sains dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama siswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan.
Menurut Setyosari (2010:7) menyatakan bahwa “Berpikir deduktif merupakan proses berfikir yang didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus dengan menggunakan logika tertentu.”
Hal serupa dijelaskan oleh Sagala (2010:76) yang menyatakan bahwa: Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus.
Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa “Pendekatan deduktif merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.”
Dalam pendekatan deduktif menjelaskan hal yang berbentuk teoritis kebentuk realitas atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Disini guru menjelaskan teori-teori yang telah ditemukan para ahli, kemudian menjabarkan kenyataan yang terjadi atau mengambil contoh-contoh.
Dari penjelasan beberapa teori dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan deduktif adalah cara berfikir dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.

4.      Pendekatan Induktif
Berbeda dengan pendekatan deduktif yang menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat umum, maka pendekatan induktif (inductif approach) menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat khusus.. Metode induktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.
Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum.
Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa: Pendekatan induktif dimulai dengan pemberian kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan, menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut.
Mengajar dengan pendekatan induktif adalah cara mengajar dengan cara penyajian kepada siswa dari suatu contoh yang spesifik untuk kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu aturan prinsip atau fakta yang pasti.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang berawal dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu kesimpulan, prinsip atau aturan.

5.      Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi).. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.
Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.

Ciri-ciri suatu konsep adalah
a.       Konsep memiliki gejala-gejala tertentu
  1. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung
  2. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya
  3. Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman
  4. Konsep yang benar membentuk pengertian
  5. Setiap konsep berbeda dengan melihat ciri-ciri tertentu
Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:
  1. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.
  2. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.
  3. Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang kompleks.
  4. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.
6.      Pendekatan Proses
Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.
Kelebihan Pendekatan Proses
a.       Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting untuk pengembangan pengetahuan dan masa depan.
  1. Pendahuluan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan.
Kelemahan Pendekatan Proses
  1. Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum.
  2. Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat menyediakannya.
  3. Merumuskan masalah, menyusun hipotesis, merancangkan suatu percobaan untuk memperoleh data yang relevan adalah pekerjaan yang sulit, tidak semua siswa mampu melaksanakannya.


BAB III
PENUTUP

A.            Kesimpulan
Pendekatan pembelajaran dapat berarti titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran, yang berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar.
Jenis-jenis pendekatan dalam pembelajaran:
1.      Pendekatan Konstektual
2.      Pendekatan Konstruktivisme
3.      Pendekatan Deduktif
4.      Pendekatan Induktif
5.      Pendekatan konsep
6.      Pendekatan proses